Minggu, 27 November 2011

REVIEW PRESENTASI KOMPOL


TUGAS REVIEW PRESENTASI KOMPOL

Oleh    : Jane Calandra W
              Intan S Zakiah
              M. Syahyudi Aziz
              Miftachus Sa’idin


A.    Umpan Balik Komunikasi
Pengertian komunikasi merujuk pada sebuah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain. Sementara politik  didefinisikan sebagai bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politik yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuandari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Oleh karena itu komunikasi politik merupakan  komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah.
Dalam melakukan komunikasi antar dua atu lebih orang maka pesan tersebut menerima selayaknya mendapatkan umpan balik. Umpan balik yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator tentang seberapa berhasil komunikasi yang dilakukannya. Jadi, umpan balik (feedback) merupakan satu-satunya elemen yang dapat ’menjudge’ apakah komunikasi yang telah berlangsung berhasil atau gagal.
Dalam konteks komunikasi politik, sebuah pesan politkk agar mampu tersampaikan dengan baik juga harus memperhatikan beberapa elemen diantaranya, target sasaran, maksud pesan dan media yang digunakan.  Dengan memperhatikan elemen tersebut, maka pesan politik yang disampaikan dapat sesuai tujuan berdasarkan indikator umpan balik yang sesuai harapan. Umpan balik digunakan sebagai hakim atau pos terakhir yang dapat memutuskan apakah komunikasi dapat berlangsung atau tidak.

B.     Dampak komunikasi
Komunikasi politik memang sebuah istilah baru dalam bidang politk. Dari sudut pandang pemikiran politik, Almond dalam bukunya menjabarkan bahwa komunikasi politik merupakan fungsi yang memungkinkan kita dalam setiap sistem politik dapat mempelajari sistem politk meski berasal dari budaya yang berbeda. Dankomunikasi politik itu sendiri merupakan salah satu dari tujuh fungsi dalam sistem politik.
Sementara dari sudut pandang ilmuan komunikasi lebih banyak membahas peranan media massa dalam komunikasi politik (dengan sedikit perhatian pada komunikasi antarpribadi), para ilmuwan politik mengartikan komunikasi politik sebagai proses komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Adanya media massa membuat pengetahuan politik kepada masyarakat semakin mudah. Masyarakat semakin pandai untuk menentukan sikap dan perilaku. Perubahan pengetahuan tidak hanya berpengaruh pada masyarakat saja tetapi juga pada politisi.
Sikap dalam kajian psikologi digunakan untuk meramalkan tingkah laku,  baik perorangan, kelompok, maupun suatu bangsa. Harry C.Triandis mengungkapkan beberapa fungsi sikap diantaranya; membantu orang memahami dunia di sekelilingnya,  melindungi harga diri orang, membantu orang menyesuaikan diri dalam dunia yang kompleks ini dan memungkinkan orang mengekspresikan nilai-nilai atau pandangan-pandangan hidupnya yang mendasar.
Sikap anggota dewan dalam suatu sistem politik di pengaruhi oleh pihak-pihak tertentu diantaranya pemilih, organisasi politik, eksekutif, dan diri pribadi anggota dewan. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa perilaku anggota dewan ditandai pola-pola tertentu sesuai dengan hubungan antara mereka dan pihak-pihak yang membawa pengaruh tersebut. Pola-pola tersebut diantaranya The Representative a Trustee, The Representative as a Delegate, The Representative as Politico,  The Representative as a Partisan.
Menurut Almond dan Powell komunikasi politik merupakan suatu fungsi sistem yang mendasar (basic function of the system) dengan konsekuensi yang banyak untuk pemeliharaan ataupun perubahan dalam kebudayaan politik dan struktur politik. Melalui komunikasi sesuatu kebudayaan dapat tumbuh, berkembang dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap perilaku yang diperankan seseorang atau sekelompok orang dapat memberikan makna bagi yang lainnya, karena perilaku itu dipelajari dan diketahui melalui proses interaksi.

C.    Kampanye

Kampanye adalah sebuah tindakan politik bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian. Kampanye pada dasarnya merupakan satu di antara bentuk kegiatan komunikasi politik. Melalui kampanye diharapkan lahir efek politik, yaitu perilaku memilih yang berpihak pada suatu partai politik dan dalam jumlah yang maksimal.
Ada tiga pendekatan persuasi politik, yaitu propaganda, periklanan, dan retorika. Ketiga pendekatan itu memiliki persamaan, yaitu semuanya bertujuan, disengaja, dan melibatkan pengaruh. Sedangkan perbedaannya meliputi : Pertama, perbedaan dalam meneruskan pesan dengan tekanan satu ke banyak dan dua arah. Kedua, orientasi pendekatan, perorangan, atau kelompok. Ketiga, pandangan berbeda yang memungkinkan adanya masyarakat. Keempat, masing-masing menggunakan fokus yang berbeda dalam merumuskan masalah.
Agar berhasil, kampanye harus memiliki pesan yang kuat yang menargetkan para pemilih. Melalui polling, kategorisasi dari pemilih, dan pembangunan koalisi, pesan kampanye dapat dibuat. Pesan yang ada dalam kampanye politik juga harus disesuaikan dengan target pemilih. Pesan kampanye yang sering muncul utamanya dalam pilpres 2009 diantaranya mengenai peningkatan kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, pengurangan pengangguran, mengenai BBM, juga tinjauan atas sikap dan kinerja diri.
Kampanye umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol - simbol, pada sistim politik totaliter, otoriter kampanye sering dan biasa dilakukan kedalam bentuk tindakan teror, intimidasi, propaganda atau dahwah.
Kampanye juga bukan berjalan begitu saja, dia melewai tahapan-tahapan tertentu. Pertama, mengidentifikasi masalah faktual yang dirasakan. Kampanye jika mau sukses maka harus berorientasi pada isu (issues-oriented),  bukan hanya berorientasi pada citra (image-oriented). Kedua, adalah pengelolaan kampanye yang dimulai dari perancangan, pelaksanaan hingga evaluasi. Ketiga, adalah tahap evaluasi pada penanggulangan masalah (reduced problem). Dengan melewati tahap-tahap ini pesan  yang dikampanyekan dapat lebih tepat sasaran.

Selasa, 22 November 2011

REVIEW KOMPOL



NAMA KELOMPOK:
1. Aris Putro P.
2. Dylla Novriana B. 
3. Melisa Indriana Putri


Dampak Komunikasi Politik

Tingkah laku para pemilih dalam pemilihan umum sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan politik. Yang menjadi pertanyaan terpenting para ilmuwan politik-sehubungan dengan studi voting behavior adalah apa alasan seorang pemilih untuk memilih partai politik tertentu dalam suatu pemilihan umum dan apa alasan seseorang pemilih untuk mengubah pilihannya dengan memilih partai politik lain.
Two step flow theory ini menganut pandangan bahwa media massa sebelumnya memainkan peranan yang penting dalam penyebaran informasi. Tanpa penyebaran media massa yang cukup luas, two step flow theory tersebut tidak akan banyak berarti. Surat kabar memainkan peranan terpenting di antara berbagai bentuk media massa sebagai penyalur informasi.
Studi tingkah laku pemilih berkaitan erat dengan studi dampak komunikasi dan studi attitude (sikap mental). Studi dampak komunikasi mempelajari dampak komunikasi terhadap orang yang dikenai oleh arus komunikasi tersebut. Dampak yang diperkirakan terjadi adalah bertambahnya informasi. Informasi tersebut dapat mengakibatkan terciptanya alam pikiran dan tingkah laku yang diinginkan oleh masyarakat maupun tingkah laku yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat bersangkutan.
Sikap merupakan salah satu kajian psikologi yang dapat digunakan untuk meramalkan tingkah laku,  baik perorangan, kelompok, maupun suatu bangsa. Menurut Almond dan Verba dalam Mahi M.Hikmat (2010: 147), orientasi politik adalah sikap warga negara terhadap sistem politik termasuk aneka ragam segmennya, serta sikapnya terhadap peran diri pribadi di dalam sistem tersebut. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa setiap warga negara, termasuk politikus, dianggap memiliki pengaruh tertentu kepada pengambilan keputusan di dalam sistem yang bersangkutan. Setiap politikus yang menjadi anggota dewan, memiliki orientasi politik yang tidak jauh berbeda dengan rakyat biasa. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari masyarakat setempat dan mengalami proses sosialisasi politik yang sama. Perbedaannya dengan rakyat biasa adalah mereka cenderung menerima nilai-nilai demokrasi dengan sikap positif.
Dalam proses penyampaian pesan politik akan terjadi pengaruh (effect) tertentu. Pengaruh mungkin bisa berupa perubahan situasi yang sama sebagaimana dikehendaki oleh pemrakarsa pesan, tidak terjadi perubahan apa-apa, dan mungkin dapat berupa situasi lebih buruk lagi.
Pengaruh komunikasi politik kadangkala dapat diprediksi tetapi kadangkala juga sulit diprediksikan. Misalnya unjuk rasa yang memperoleh dukungan luas dari elemen masyarakat, diamplifikasi secara besar-besaran oleh media massa dan ditopang secara kuat oleh opini masyarakat internasional dapat diprediksi lebih berhasil mendesakkan perubahan sebagaimana dikehendaki oleh unsur-unsur penggerak perubahan. Contoh kasusnya pada tahun 1998 yang ditandai oleh tumbangnya Presiden Suharto.
Beberapa komunikasi politik mempunyai efek segera, seperti keberhasilan yang dicapai oleh kalangan pro-pembatalan rencana penggunaan hak angket oleh DPR berkenaan dengan rencana kebijakan impor beras tahun 2006. Namun, komunikasi politik kadangkala membawa efek jangka panjang, seperti tuntutan perubahan sistem politik ke arah lebih terbuka dan demokratis untuk Indonesia.
Almond dan Verba (belajar-komunikasi.blogspot.com) mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan tempat dan peranan mereka pada sistem politik.
Melalui komunikasi, suatu kebudayaan dapat tumbuh, berkembang dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap perilaku yang diperankan seseorang atau sekelompok orang dapat memberikan makna bagi yang lainnya, karena perilaku itu dipelajari dan diketahui melalui proses interaksi. Kebudayaan menurut Krech (2008:24) terbentuk melalui suatu proses yang diawali oleh adanya usaha-usaha anggota masyarakat dalam menemukan cara-cara penyelesaian masalah sehingga ditemukan suatu cara yang terbaik serta teruji kehandalannya dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Kampanye

Kampanye adalah sebuah tindakan politik bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian.
Ada tiga pendekatan persuasi politik, yaitu propaganda, periklanan, dan retorika. Ketiga pendekatan itu memiliki persamaan, yaitu semuanya bertujuan, disengaja, dan melibatkan pengaruh.
Agar berhasil, kampanye harus memiliki pesan yang kuat yang menargetkan para pemilih. Melalui polling, kategorisasi dari pemilih, dan pembangunan koalisi, pesan kampanye dapat dibuat.
Kampanye umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-simbol, pada sistim politik totaliter, otoriter kampanye sering dan biasa dilakukan kedalam bentuk tindakan teror, intimidasi, propaganda atau dahwah. Kampanye dapat juga dilakukan melalui internet.
Mengorganisasi mendasar diri pada hubungan-hubungan dan kepentingan pribadi. Mengorganisasi berkaitan dengan upaya mengubah negara dan menyusun strategi-strategi bagi individu untuk bertindak bersama
Kampanye pada awalnya dijalankan untuk sebuah rekayasa Pencitraan kemudian berkembang menjadi upaya persamaan pengenalan sebuah gagasan atau isu kepada suatu kelompok tertentu yang diharapkan mendapatkan tanggapan.
Kampanye yang baik tentu saja adalah kampanye berkonsep dan tepat pada target yang dibidik. Pertama, mengidentifikasi masalah faktual yang dirasakan. Kedua, adalah pengelolaan kampanye yang dimulai dari perancangan, pelaksanaan hingga evaluasi. Ketiga, adalah tahap evaluasi pada penanggulangan masalah (reduced problem).


Umpan Balik Komunikasi Politik

Pada komunikasi, pendefinisiannya adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Beberapa Unsur Yang ada Dalam, Komunikasi adalah:
a.    Komunikator (siapa Yang mengatakan?) "Siapa"
b.    Pesan (mengatakan apa?) "Pesan"
c.    Media (melalui saluran media yang apa?) "Channel"
d.   Komunikan (Kepada siapa "Untuk Siapa"?
e.    Efek (menimbulkan Dampak apa? "Efek"
Pengertian tentang umpan adalah sesuatu yang dikembalikan lagi dan ditimbulkan pada proses komunikasi.Umpan balik digunakan untuk mngukur keefektifan komunikator komunikasi yang berhasil. Jadi, umpan balik (umpan balik) merupakan Satu-satunya elemen Yang dapat 'menjudge' apakah Komunikasi Yang Telah berlangsung berhasil atau Gagal.

RESUME KOMUNIKASI POLITIK TENTANG UMPAN BALIK DAN KAMPANYE POLITIK
Tugas Kelompok Matakuliah Komunikasi Politik

Disusun Oleh :
Dea Ayu S                   0811223088
    Dea TIva P                  081220006
Dhevi Shinta H           0811223090
Dwi Yunita W             0811220076

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
Malang
2011



1.     UMPAN BALIK
Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antar sesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi.
Keberhasilan komunikasi dalam kerangka tujuan menunjukkan betapa pentingnya elemen komunikator dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Karena dalam melakukan komunikasi, komunikator harus lebih dulu mengetahui keadaan komunikan. Keadaan komunikan yang sedang sedih, gembira, dan sebagainya sangat menentukan keberhasilan komunikasi. Disinilah peran komunikator yang harus dapat menilai apakah komunikan dalam keadaan siap atau tidak untuk berkomunikasi. Bila dianalogikan dengan seorang siswa-naik atau tidak naik kelas-sebenarnya, bergantung pada kemauan siswa itu sendiri. Apabila komunikator maksimal dalam mengusahakan suatu komunikasi yang baik dengan mempertimbangkan segenap aspek komunikasi, termasuk media apa yang akan dipakai, baik itu media primer (dengan cara tatap muka), maupun sekunder (radio, televisi, surat, dan sebagainya), maka komunikasinya akan berhasil.
Pemilihan media yang tepat dalam melakukan komunikasi turut memberikan peranan dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Media primer yang paling banyak digunakan adalah bahasa. Kesalingmengertian dalam bahasa tidak hanya sebatas kerangka terjemahan saja, tetapi juga pada kerangka pemaknaan. Lebih lanjut, kesalingmengertian juga didasari pada faktor frame of reference. Sedangkan dalam menggunakan media sekunder (surat kabar, radio, televisi, dan sebagainya), keefektifan tercapai dalam menjangkau komunikan dalam jumlah yang banyak (massa). Namun, kelemahan aspek ini adalah hanya sebatas pada pesan yang bersifat informatif saja. Sehingga umpan balik yang ditimbulkan tidak dapat diketahui secara langsung.
Umpan balik yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator tentang seberapa berhasil komunikasi yang dilakukannya. Jadi, umpan balik (feedback) merupakan satu-satunya elemen yang dapat ’menjudge’ apakah komunikasi yang telah berlangsung berhasil atau gagal. Keberlangsungan komunikasi yang dibangun sebelumnya ditentukan oleh umpan balik sebagai bentuk penilaian, dan bila dianalogikan lagi dengan seorang siswa-dia naik kelas atau tidak-maka, umpan balik adalah sebagai nilai raportnya.

2.     KAMPANYE POLITIK
Ada tiga pendekatan persuasi politik, yaitu propaganda, periklanan, dan retorika. Ketiga pendekatan itu memiliki persamaan, yaitu semuanya bertujuan, disengaja, dan melibatkan pengaruh. Sedangkan perbedaannya meliputi : Pertama, perbedaan dalam meneruskan pesan dengan tekanan satu ke banyak dan dua arah. Kedua, orientasi pendekatan, perorangan, atau kelompok. Ketiga, pandangan berbeda yang memungkinkan adanya masyarakat. Keempat, masing-masing menggunakan fokus yang berbeda dalam merumuskan masalah.

Propaganda
Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.

Periklanan
Periklanan massal adalah komunikasi satu ke banyak. Namun berbeda dengan propaganda yang ditujukan pada orang-orang sebagai anggota kelompok, periklanan mendekati mereka terutama sebagai individu-individu tunggal, independen, terpisah dari kelompok yang menjadi identifikasinya dalam masyarakat. Bila orang bertindak secara independen sampai pada pilihan yang sama, maka pilihan individual itu berkonvergensi.

Retorika
Retorika merupakan bentuk persuasi yang menonjolkan komunikasi dua arah, dialektika, negosiasi, dan drama. Melalui retorika yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader, dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan, dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas.

TUGAS REVIEW KOMPOL - 21 November 2011


Kelompok :
Devirly Nanda 0811223015
Erna Ermawati 0811220080
Gusti Nur Octavia Sartika P. 0811223021
Rene Nindya 0811223129

Dampak komunikasi politik

1.      Perubahan pengetahuan :
Pengetahuan tentang ilmu politik semakin berkembang meskipun masih relative baru. Ilmu politik mulai dikenal sejak tahun 1960 oleh Gabriel Almond dalam bukunya The Politic of the Development Areas. Almond berpendapat bahwa komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik sehingga terbuka kemungkinan bagi para ilmuwan politik untuk memperbandingkan berbagai sistem politik dengan latar belakang budaya yang berbeda. Pada tahun 1960 mungkin belum dikenal komunikasi politik namun tidaklah berarti bahwa tidak ada studi-studi yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial (ilmuwan politik, ilmuwan komunikasi, sosiolog, ataupun psikolog) atas masalah yang menjadi objek studi dari komunikasi politik nantinya. Perubahan pengetahuan menjadi sangat berpengaruh pada perubahan sikap, perilaku dan budaya politik. Adanya media massa membuat pengetahuan politik kepada masyarakat semakin mudah. Masyarakat semakin pandai untuk menentukan sikap dan perilaku. Perubahan pengetahuan tidak hanya berpengaruh pada masyarakat saja tetapi juga pada politisi. Mereka mempunyai kemempuan untuk mempersuasif dan melakukan propaganda-propaganda.
2.      Perubahan sikap
Menurut Windari dalam Mahi M.Hikmat (2010: 138) sikap adalah faktor yang menentukan perilaku karena berkaitan dengan persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu keadaan siap mental yang dipelajari dan diorganisasikan menurut pengalaman serta yang menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atau reaksi seseorang terhadap orang-orang, objek-objek, dan situasi-situasi dengan siapa ia berhubungan. sikap merupakan salah satu kajian psikologi yang dapat digunakan untuk meramalkan tingkah laku,  baik perorangan, kelompok, maupun suatu bangsa.
Menurut Harry C.Triandis dalam Mahi M.Hikmat (2010: 139) sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a.       Membantu orang memahami dunia di sekelilingnya dengan mengorganisasikan dan menyederhanakan masukan yang sangat kompleks dari lingkungan
b.      Melindungi harga diri orang dengan memungkinkan mereka menghindari dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehubungan dengan diri mereka.
c.       Membantu orang menyesuaikan diri dalam dunia yang kompleks ini dengan membuat mereka cenderung bertingkah laku tertentu (yang diterima lingkungannya) untuk memaksimumkan ganjaran positif dari lingkungan.
d.      Memungkinkan orang mengekspresikan nilai-nilai atau pandangan-pandangan hidupnya yang mendasar.
Pemilih, organisasi politik, eksekutif, dan diri pribadi anggota dewan mempengaruhi pembentukan perilaku politisi. Perilaku anggota dewan didasarkan pada ide dan kepentingan pihak-pihak tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa perilaku anggota dewan ditandai pola-pola tertentu sesuai dengan hubungan antara mereka dan pihak-pihak yang membawa pengaruh tersebut.
Menurut Abcarian dan Masannat dalam Mahim M.Hikmat (2010: 148), pola-pola tersebut secara perinci dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      The Representative a Trustee
Pada pola ini, si wakil sebagai anggota legislatif yang dipilih bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri melihat kepentingan-kepentingan tertentu dalam proses pengambilan keputusan. Meskipun ia menghargai pihak pemilih, tidak berarti si wakil boleh mengorbankan pertimbangan pribadi.
2.        The Representative as a Delegate
Pada pola ini, si wakil bertindak sebagai utusan atau duta dari yang diwakilinya sedemikian rupa sehingga ia selalu mengikuti instruksi dan petunjuk dari yang diwakilinya dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
3.         The Representative as Politico
Pola ini merupakan gabungan dari kedua pola di atas. Tindakannya tergantung dari permaasalahan yang dihadapi. Apabila isu atau permasalahannya bersifat mendesak atau berhubungan dengan kepentingan pemilihnya, si wakil akan bertindak secra delegate. Namun, bila keadaannya tidak seperti di atas dasar kepentingan-kepentingan tertentu, yaitu trustee
4.      The Representative as a Partisan
Pada pola ini, si wakil bertindak sesuai dengan keinginan partai yang mendukung. Setelah dipilih, si wakil mulai hubungannya dengan organisasi politik yang mencalonkannya dalam pemilihan itu.
3.      Perubahan perilaku
Proses komunikasi politik akan menghasilkan effect tertentu. Komunikasi politik merupakan proses perjuangan antar kepentingan dalam suatu sistem politik dengan menggunakan tanda-tanda pesan baik verbal maupun non-verbal. Komunikasi politik kadangkala membawa efek jangka panjang (long-termeffect), seperti tuntutan perubahan sistem politik ke arah lebih terbuka dan demokratis untuk konteks Indonesia. Perubahan perilaku ini dikarenakan oleh semakin terbukanya sistem politik diindonesia sehingga masyarakat semakin pandai mengambil tindakan yang tegas dalm proses politik.

4.      Perubahan budaya politik
Komunikasi politik merupakan suatu fungsi sistem yang mendasar (basic function of the system) dengan konsekuensi yang banyak untuk pemeliharaan ataupun perubahan dalam kebudayaan politik dan struktur politik. Budaya politik sangat beragam tergantung bagaimana politisi dan masyarakat yang berada didalamnya. Budaya politik dapat berubah seiring dengan perkembangan pengetahuan yang ada. Budaya politik akan terus berkembang dari generasi ke generasi.
Berikut ini adalah beberapa pengertian budaya politik yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoritis sebagai berikut :
a.       Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Seluruhnya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.
b.      Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau tertutup.
c.       Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai adalah prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang berhubungan dengan masalah tujuan.
d.       Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong inisiatif kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status quo atau men­dorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau politik).























Umpan Balik Komunikasi Politik (A-IK-5)
Komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”. Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik.

Umpan Balik Komunikasi Politik
Komunikasi merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi yang baik tentunya akan menciptakan hubungan yang harmonis antarsesama. Keberhasilan komunikasi ini bila ditinjau dari segi keilmuan, maka dapat ditelaah berdasarkan unrsur-unsur yang ada di dalamnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, dan umpan balik. Kelima unsur yang merupakan hasil kajian Harold Laswell ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Di antara kelima unsur ini, umpan balik merupakan unsur yang paling penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi.
Umpan balik yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator tentang seberapa berhasil komunikasi yang dilakukannya. Jadi, umpan balik (feedback) merupakan satu-satunya elemen yang dapat ’menjudge’ apakah komunikasi yang telah berlangsung berhasil atau gagal.
Dengan mengetahui umpan balik yang dikirimkan oleh komunikan, maka sebagai komunikator, kita akan dapat langsung mengetahui apakah tujuan dari pesan kita tersampaikan atau tidak. Apakah umpan balik itu berupa respon negatif ataupun respon positif.
Keberhasilan komunikasi bisa dilihat dari tujuannya: tercapai atau tidak. Selain itu, sebelum melakukan komunikasi, kita harus mengetahui siapa sasaran kita. Dalam hal ini, komunikator memainkan peranan penting dalam komunikasi. Tujuan dari pesan itu sendiri harus disesuaikan dengan jenis pesan yang akan disampaikan. Terutama dalam komunikasi politik, hal-hal apa sajua yang ingin kita sampaikan kepada khalayak wajib dipikirkan terlebih dahulu media serta gaya bahasa apa yang akan kita sampaikan.
Pemilihan media yang tepat dalam melakukan komunikasi turut memberikan peranan dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Media primer yang paling banyak digunakan adalah bahasa. Sedangkan dalam menggunakan media sekunder (surat kabar, radio, televisi, dan sebagainya). Umpan balik yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada komunikator tentang seberapa berhasil komunikasi yang dilakukannya.

KAMPANYE
Kampanye adalah sebuah tindakan politik bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian
·         Komunikasi Politik di Indonesia
Kampanye pada dasarnya merupakan satu di antara bentuk kegiatan komunikasi politik. Melalui kampanye diharapkan lahir efek politik, yaitu perilaku memilih yang berpihak pada suatu partai politik dan dalam jumlah yang maksimal. Model dan pendekatan kampanye yang dipandang sukses pada suatu negara, belum tentu akan memperoleh hasil yang sama jika diterapkan di lingkungan masyarakat dan negara yang berbeda.
·         Kampanye Politik sebagai Persuasi
·         Persuasi dalam Politik : Propaganda Hingga Retorika
Ada tiga pendekatan persuasi politik, yaitu propaganda, periklanan, dan retorika. Ketiga pendekatan itu memiliki persamaan, yaitu semuanya bertujuan, disengaja, dan melibatkan pengaruh.
Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.
Dimensi periklanan dalam persuasi politik, menjadikan kandidat laksana produk. Produk menjadi sebuah kombinasi yang beraneka ragam dari kandidat itu sendiri, citra politisi dan platform yang menyokong, dipromosikan dan disampaikan kepada khalayak yang tepat (Bruce I. Newman, 1999). Produk yang tidak dikenal, dengan teknik pemasaran yang baik dapat dijual kepada pemilih sehingga memperoleh kesuksesan.

Retorika merupakan bentuk persuasi yang menonjolkan komunikasi dua arah, dialektika, negosiasi, dan drama. Melalui retorika yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader, dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan, dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas.
·         Cara Membuat Pesan Kampanye Politik
1.      Demografis Berbicara
2.      Kategorikan
3.      Membangun Koalisi
4.      Membuat Pesan Kampanye

·         Kesimpulan
Agar berhasil, kampanye harus memiliki pesan yang kuat yang menargetkan para pemilih. Melalui polling, kategorisasi dari pemilih, dan pembangunan koalisi, pesan kampanye dapat dibuat. Untuk selanjutnya pesan tersebut perlu untuk dikomunikasikan dalam rangka untuk menang pada hari pemilihan.